
Solidaritas Anak Jalanan, Kekuatan Kami
27Agustus, 2008Selama ini, kami bisa bertahan selama 11-tahun?”, kami tidak ada manajemen Ekonomi, serta Seketariat, Fasilitas pendukung yang akan kami jadikan ajang untuk menumpahkan seluruh daya kreatifitas Anak-anak/remaja/Dewasa,sebagai Sentral Informasi,komunikasi,dimana kami sangat mudah untuk berhubungan secara Solidaritas/komunikatif dengan Basis, Komunitas/Anggota.
Dengan segala keterbatasan dan Tenaga yang kami miliki ini semuanya menjadi kendala bagi SALUD, tetapi apalah daya yang akan kami perbuat, sehingga sekretariat yang kami bangun di bawah kolong jembatan, tetap semangat aktifitasnya, tetap saja penggusuran-penggusuran tidak bisa di hindarkan, walau di gusur kami di sini tidak selalu patah semangat sebab SALUD selalu membuka hubungan kerja secara organisasi dan jaringan-jaringan kerja sehingga kami mudah untuk bertahan dan beradaptasi dengan perubahan di lingkungan serta di luar lingkungan kami, hingga detik ini, kami di dukung oleh sebuah organisasi nasional pada awal tahun 2002 yaitu F P P I ( Front Perjuangan Pemuda Indonesia ) Organisasi Pemuda ini Di-deklarasi di MUNTILAN (Jogjakarta) pada akhir tahun 1998 yang terdiri dari Buruh, Petani, Mahasiswa, Kaum miskin Kota dan kini tersebar di Nusantara, sehingga salah satunya Anggota SALUD kini menjadi pengurus F P P I ( Front Perjuangan Pemuda Indonesia ).
Mengapa Para penggagas SALUD menyadari bahwa organisasi ini harus lahir secara terpaksa di jalanan.sebab kekerasan di jalanan, tidak bisa di hindarkan.Maka pengalaman dari jalanan kami belajar dari kegagalan,di mana selama anggota-anggota dan pengurus sangat sering keluar masuk Penjara DEPSOS (Departemen-Sosial) Kedoya-Cipayung-Pondok Bambu, ada yang 1-2-3-4-5 hingga 10-25-kali keluar masuk dalam Trali Besi Pemda-DKI, ada 1-Bulan,ada pula yang 3-6 Bulan.
Sehingga terjadi adanya kematian di dalam sel tahanan,serta pelecehan seksual yang sering terjadi.Lama-lama kami sempat berfikir dalam kebosanan ini, kami benci dengan permasalahan Konflik-Sosial yang kami rasakan. Semuanya adalah Permainan, sehingga kami jenuh dan tertipu oleh Rekayasa-rekayasa yang di permainkan oleh banyak kelompok, melihat semuanya ini adalah sebuah permainan yang di ambil sepihak Sehingga banyak rakyat yang menjadi korban,secara singkat kami berangkat dari kebutuhan untuk bergerak di dalam komunitas kami, maka lahirlah sebuah ORGANISASI, sebagian dari komuninitas SALUD, mereka adalah anak-anak Perantau, mereka datang dari seluruh penjuru Desa/Kota di Indonesia ini, dari Sabang hingga marauke, Umur mereka sangatlah Muda ada yang berumur 8-tahun, di mana kami berfikir mereka berhak untuk bermain-belajar, entah mengapa mereka tidak di beri perlindungan secara Hukum dan Hak Asasi Manusia,kembali kepada habitat permasalahan sosial kaum miskin kota, secara HAK kontitusional,Hak warga negara.
Negara harus memberi kewajibannya pada masyarakat,bukan berarti kami di sini mempolitisasi anak-jalanan,tetapi kenyataan ini menjadi inspirasi bagi kami, sehingga kami bagi-bagi tugas di mana yang dewasa.Kaka-nya 18-tahun harus mengawasi dan memberi kebijakan yang bijak pada Adik-adik-nya. Dengan Sebuah pendekatan kami kepada Kawan-kawan yang dewasa,yaitu melalui Solidaritas yang Dahsyat”,sebab kami di jalanan,harus saling menolong antar sesama.Membangun Solidaritas-inilah yang menjadi kekuatan dasar Komunitas ini,dan menjadi keluarga besar di mana semuanya harus menyadari proses persekawanan yang kami bangun, siapa lagi kalau bukan kesadaran (solidaritas) yang akan menolong kami dan yang mempersatukan kelemahan-kelemahan yang kami rasakan di jalanan,terpecah-pecah,maka dari perjalanan ini sehingga terjalin tali-persaudaraan yang sangat-erat jika terjadi datangnya sebuah permasalahan, maka kami bisa saling menolong antar sesama maupun yang lebih lemah di bandingkan kami.
Dia antara mereka datang dari desa ke kota, mereka datang dari segala latar belakangnya,tujuan mereka berbondong-bondong ke kota untuk mencari pengalaman, peluang kerja.atau permasalahan yang lainya, seperti kasus yang sering kami temui adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga, sehingga seorang anak merasakan di-libatkan dalam permasalahan rumah tangga tersebut, bagi seorang anak, itu adalah permasalahan yang sering di libatkan dalam permasalahan kekerasan dalam rumah tangga ini,dan inilah kasus yang sering terjadi,dan dari mereka kebanyakan melarikan diri dari rumahnya, kerena mereka tidak tahan telah terjadi kekerasan di dalam rumah tangga yang sering melibatkan lingkungan dan terjadi pada anak, sehingga seorang anak terkena dampaknya.atau pemasalahan ekonomi keluarga, atau berbeda pendapat di dalam rumah tangga,
Dari sini kami belajar bersama-sama melihat persoalan yang ada di depan mata kami, Setiap hari para pemuda kota ini selalu berkumpul, setelah mereka lelah bekerja dalam-kesehariannya melakukan aktifitas.
Di sela-sela istirahat kami sering memperdebatkan situasi yang kami alami dalam dunia jalanan,ternyata masih banyak permasalahan yang sangat pelik dari kenyataan yang di rasakan oleh kami, selaku kaum urban miskin perkotaan, selain kami yang merasakan ternyata masih ada barisan-barisan pengangguran yang sangat panjang sebab hidup di kota tidaklah mudah,karena persaingan hidup yang sangat kuat. Kami merasakan sebuah proses di jalanan yang mendidik kami maupun terdidik oleh situasi, di mana karakter seseorang harus di uji dari kemampuannya di jalanan seperti kesabaran/kejujuran/optimis,secara sadar atau tidak gagasan yang berangkat dari diskusi kecil,yang mungkin terkadang di luar dugaan anak jalanan,kami berkumpul di salah satu stasiun kereta api, atau warung kopi, hingga di kolong-kolong jembatan.
Dari secangkir kopi dan sebatang rokok para pemuda-pemudi ini menemukan ide-ide yang sederhana, hingga pada ide-ide yang tak terlalu formal, artinya mereka berangkat dari sebuah kebutuhan-keperluan sebagai manusia-sosial yang sama-sama untuk memiliki HAK-KONSTITUSIONAL, selayaknya sebagai warganegara Indonesia yang Sah secara Hukum, perbincangan ini di lanjutkan sangatlah sederhana seperti perbincangan masih banyak rakyat yang miskin,hidup di bawah bendera kemiskinan. Alasannya, pemerintah yang tak sanggup memberantas kemiskinan dan mensejahterakan rakyatnya.dari segi ketidak mampuan pemerintah untuk memberi pendidikan dan kehidupan yang layak dan berkualitas, dari sini kami mendapatkan bahan-bahan perbincangan yang menjadi diskusi rutin dan mengkritiskan kebijakan pemerintah agar masyarakat harus diberi Hak-Hak-nya sebagai warganegara indonesia, terkadang inipun menjadi tuntutan kami,segeralah pemerintah harus menjamin kesejahteraan hidup masyarakat,proses ini bisa di gunakan,karena dia adalah salah satu pondasi-demokrasi di negeri ini, agar menjaga hubungan Pemuda/Pemudi yang tertinggal dari Pendidikan-nya maka akan menyadari permasalahan yang di rasakan di sekitarnya untuk melakukan perubahan secara evolusi,diantaranya mereka yang bertahan di jalanan.
Maka mereka akan membantu semua persoalan yang terjadi di lingkungan antara dunia anak-jalanan/remaja, serta generasi penerus yang akan membuka ranah pendidikan alternatif atau lapangan kerja alternatif bagi anak-anak jalanan/Remaja, maupun masyarakat di sekelilingnya. Jika itu terpenuhi maka batas-batas ruang sosial tidak akan terjadi di antara Orang-orang miskin dan Orang-orang Kaya,kerena kita bisa menyadari dan di anugrahi perbedaan sebagai permersatu diantaranya kami Anak jalanan/remaja yang tetap di di jalanan,mereka sebagai pemeran di lingkungannya akan menyadari semua ini.Sehingga tidak ada lagi anak-anak jalanan yang bertahan di jalanan, kami hanya berharap agar semuanya terjamin oleh pemerintah sebab dalam permasalahan ini, pemerintah harus bertanggung jawab walaupun ada lembaga-lembaga pemerintah yang menaungi permasalahan kesejahteraan sosial masyarakat. Tetap saja tidak sanggup untuk menjawab pemiskinan yang ada.
Ruang ranah sosial yang kami rasakan di lingkungan masyarakat miskin urban,di sini kami sulit untuk mendapatkan AKSES kesejahteraan,kerena sulitnya keterbatasan dan status ruang yang slalu kami rasakan, kerena sebuah kesejahteraan serta batas-batas yang di mana semuanya adalah STIGMA-ANJAL,kami slalu medapat tekanan-tekanan atau status sterotip yang di berikan oleh kami dari pemerintah setempat,di sini kami slalu mencoba memecahkan sebuah masalah yaitu adalah ruang masyarakat arus bawah untuk mendapatkan sebuah ruang akses keadilan sosial,tapi di sini sangatlah lebih jelas yang kita lihat begitu mencolok adalah dimana yang kami rasakan dari Hak-hak warga negara indonesia kami terabaikan.Jika kita lihat dari populasi masyarakat indonesia yang begitu besar rotasinya,di sini pasti memiliki segudang permasalahan sosial contoh sebuah kesejahteraan,serta meningkatnya masyarakat miskin yang cendrung melakukan urbanisasi dari kota,ke-kota besar di indonesia seperti salah satunya urbanisasi yang paling besar adalah di jakarta,dari kian meningkatnya kaum pekerja yang belum tentu mendapatkan akses lowongan,atau memang bukan suatu kesempatan,ruang-ruang seperti inilah menjadi suatu persaingan yang begitu pesat bagi yang berkepentingan untuk bertahan atau dengan niat ingin menafkahi keluarganya di kampung,tetapi apa-adanya dengan segala keterbatasan yang di dapat menjadi kendala di masyarakat.
Ketika kesulitan yang di alaminya adalah ruang untuk menemukan alat produksinya,entah seperti apa mereka yang berkerja,dan cara-cara mereka untuk bertahan,atau dengan cara-cara mereka membuka ruang kerja alternatif,tetapi di sini nampak jelas di mana hidupnya sebuah peraturan-peraturan yang berlaku untuk keamanan dan ketertiban bagi masyarakat, sangatlah jelas,sebab penggusuran-penggusuran kian bringas dengan sistem yang terorganisir dan Ambivalen untuk berpihak pada aspirasi-aspirasi dari masyarakat untuk pemerintah,ini adalah batas-batas yang menjadi momok di masyarakat sebab peraturan tersebut hanya berlaku bagi yang miskin dan lemah serta di bodohi oleh situasi pemiskinan yang di alaminya,dengan situasi yang seperti ini masyarakatpun terdidik dengan kenyataannya
V i s i:
Kami berusaha untuk mendorong kreatifitas Anak/Remaja di jalanan sesuai kemampuan yang mereka miliki, dengan harapan ketika mereka kembali pada lingkungan masyarakat mereka sudah Siap” untuk menjalin kerja sama.
Misi:
- SALUD hanya menjadi Wahana Kebebasan Untuk berekspresi dan bermaksud mendukung Cita-cita Anak-remaja di jalanan agar tidak patah Arang (patah semangat).
- Mendorong mereka, agar memiliki keterampilan yang sesuai kemampuan di masing-masing anak, yang kelak cita-cita bagi anak-jalanan agar mampu mengembangkan pendidikan alternatif yang bisa mereka dapatkan.
- Meningkatkan kualitas/kuantitas Anak-remaja yang kurang beruntung melalui proses Pendidikan/Solidaritas/berorganisasi/berserikat/hak-untuk bebas berpendapat di muka umum

