h1

Untuk Munir

2September, 2008

Dahulu Kita duduk bersila berkiblatkan sang-saka merah putih

engkau pergi tersiar di sudut semanggi ada bau mesiu

anyir darah mengalir di atas jidat bumi pertiwi

lalu kau usap dengan mata-hati dahulu kita duduk bersila berkiblatkan sang-saka merah putihmembongkar peti-peti penuh dengan kepalsuan slama 32-tahun

engkau berlari sendiri penuh dengan semangat

selayaknya ombak yang menarik karpet biru lautnya

REE terdengar takdir dari kaki langit MUNIR telah tiada

dari Turbin yang merampas suara-suara hati nuraninya

terdengar takdir dari MUNIR, matahari kini lelah memberi keadilan sinarnya

hari ini, esok lusa, minggu, tahun depan, tetap MUNIR menjadi inspirasi

Tinggalkan sebuah Komentar